MATA LELAKI - Ejakulasi dini menjadi salah satu masalah seksual yang cukup umum dialami oleh pria dari berbagai usia. Masalah ini tidak hanya berdampak pada kepuasan seksual diri sendiri, tetapi juga bisa memengaruhi hubungan dengan pasangan. Karena itulah banyak pria mencari berbagai cara untuk menunda ejakulasi, mulai dari teknik latihan, obat-obatan, hingga alat bantu. Salah satu solusi yang sempat viral beberapa waktu terakhir adalah tisu magic, yang diklaim bisa menunda ejakulasi.
Namun, sebelum tergiur dengan klaim yang terdengar “ajaib” ini, penting untuk mengetahui apakah tisu magic benar-benar efektif atau justru sekadar mitos belaka. Artikel ini akan membahas fakta, mekanisme, serta risiko yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan mencobanya.
Apa itu tisu magic?
Source: doktersehat.com
Tisu magic, sesuai namanya, biasanya berupa tisu atau kain khusus yang dikatakan memiliki “zat” atau “formula” tertentu yang mampu menunda ejakulasi. Produk ini sering dipasarkan sebagai solusi praktis dan instan bagi pria yang ingin bertahan lebih lama saat berhubungan seksual, tanpa perlu obat atau terapi khusus. Beberapa merek bahkan mengklaim hasil yang cepat hanya dengan sekali pakai.
Promosi tisu magic banyak beredar di media sosial, marketplace, hingga forum-forum dewasa, dan sering disertai testimoni pengguna yang terdengar meyakinkan. Hal inilah yang kemudian membuat banyak pria merasa penasaran dan tergoda untuk mencoba, meski belum tentu memahami kandungan, cara kerja, maupun risiko yang mungkin ditimbulkan.
Bagaimana cara kerjanya?
Source: fin.co.id
Singkatnya, cara kerja tisu magic itu adalah dengan mengurangi rasa sensitif di area vital pria. Beberapa produk mengandung zat khusus seperti lidocaine atau benzocaine yang membuat area tersebut terasa agak kebas untuk sementara waktu. Karena rangsangan jadi tidak terlalu terasa, ejakulasi pun bisa terjadi lebih lama.
Tapi perlu diingat, tidak semua tisu magic benar-benar punya zat tersebut. Banyak juga yang sebenarnya hanya tisu biasa, namun diklaim berlebihan lewat iklan atau promosi. Jadi wajar kalau ada yang merasa terbantu, tapi ada juga yang sama sekali tidak merasakan efek apa pun.
Apakah efektif?
Source: mahasiswaindonesia.id