MATA LELAKI - Mungkin kita pernah mendengar cerita atau berita di media sosial, tentang seseorang yang tiba-tiba membuka pakaian atau memperlihatkan alat kelaminnya kepada orang lain di tempat umum. Perilaku seperti ini sering disebut eksibisionisme.
Source: pexels.com
Apa yang terjadi di balik perilaku tersebut?
Eksibisionisme bukan hanya sekadar pamer tubuh. Dalam psikologi, ada kondisi yang disebut gangguan eksibisionistik, yaitu ketika seseorang memiliki dorongan seksual yang berulang untuk memperlihatkan alat kelaminnya kepada orang lain yang tidak memberikan persetujuan, dan dorongan atau perilaku tersebut menimbulkan masalah yang signifikan.
Apa yang membuatnya berbeda dari sekadar pamer?
Kuncinya ada pada dorongan seksual dan pola perilakunya. Seseorang dengan perilaku eksibisionistik dapat merasakan gairah atau kepuasan seksual ketika membayangkan atau melakukan tindakan memperlihatkan tubuhnya kepada orang lain.
Bahkan, pada sebagian kasus, reaksi orang yang melihatnya justru menjadi bagian dari kepuasan tersebut. Misalnya, pelaku mungkin merasa terangsang ketika melihat targetnya terkejut, panik, malu, atau memberikan reaksi tertentu. Namun, penting dipahami bahwa reaksi kaget atau takut bukanlah bentuk persetujuan.
Orang yang menjadi target tidak memilih untuk terlibat dalam aktivitas seksual tersebut. Karena itu, tindakan ini dapat membuat korban merasa takut, jijik, terancam, atau mengalami tekanan psikologis.
Apakah semua pelaku mengalami gangguan mental tertentu?
Jawabannya adalah belum tentu. Satu tindakan saja tidak otomatis berarti seseorang memiliki gangguan mental tertentu. Profesional kesehatan mental akan melihat berbagai hal, seperti apakah perilakunya berulang, seberapa kuat dorongannya, apakah sulit dikendalikan, apakah melibatkan orang yang tidak memberikan persetujuan, serta apakah kondisi tersebut menyebabkan gangguan atau masalah yang berarti. Jadi, jangan langsung memberi diagnosis hanya berdasarkan satu kejadian.
Source: rheinpfalz.de
Mengapa seseorang bisa memiliki dorongan seperti itu?
Tidak ada penyebab pasti yang membuat seseorang memiliki dorongan eksibisionistik. Perilaku seksual manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor psikologis, pengalaman hidup, dan pola perilaku.
Salah satu faktornya adalah keinginan untuk mendapatkan reaksi dari orang lain. Pada sebagian orang, melihat seseorang terkejut, panik, atau memberikan perhatian dapat menimbulkan sensasi tertentu yang kemudian dikaitkan dengan gairah seksual. Selain itu, kesulitan mengendalikan impuls, pola fantasi seksual tertentu, maupun masalah psikologis lainnya juga dapat berperan.
Namun, memiliki salah satu faktor tersebut tidak berarti seseorang pasti akan menjadi eksibisionis. Penyebabnya bisa berbeda pada setiap orang dan biasanya merupakan gabungan dari berbagai faktor yang saling berkaitan.
Kenapa dilakukan kepada orang asing?
Ini merupakan salah satu bagian yang sering membuat orang bertanya-tanya. Pada sebagian pelaku, justru ketidaksiapan atau ketidaktahuan target menjadi bagian dari fantasi atau sensasi yang dicari. Mereka mungkin ingin melihat reaksi spontan seseorang yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi.
Masalahnya, tindakan tersebut menghilangkan kesempatan bagi orang lain untuk memberikan persetujuan. Itulah mengapa perilaku ini bukan hanya persoalan preferensi seksual, tetapi juga menyangkut batas pribadi dan hak orang lain.
Apakah pelaku benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya?
Tidak selalu. Memiliki suatu dorongan dan mengikuti dorongan tersebut adalah dua hal yang berbeda. Seseorang mungkin memiliki fantasi atau dorongan seksual tertentu, tetapi tetap bisa memilih untuk tidak melakukan tindakan yang merugikan atau melibatkan orang lain tanpa persetujuan.
Namun, jika dorongan tersebut semakin sulit dikendalikan atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, sebaiknya mencari bantuan dari psikolog atau psikiater untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Source: pexels.com
Apakah kondisi ini bisa ditangani?
Penanganan terkait eksibisionisme ini biasanya bertujuan membantu seseorang memahami pola dorongannya, mengenali pemicu, mengembangkan kemampuan mengendalikan impuls, dan mencegah perilaku tersebut terjadi kembali.
Psikoterapi dapat menjadi salah satu bagian penting dalam penanganan. Dalam kondisi tertentu, dokter juga dapat mempertimbangkan pengobatan, tergantung kondisi masing-masing individu. Semakin cepat seseorang mencari bantuan ketika merasa perilakunya sulit dikendalikan, semakin baik kesempatan untuk mencegah perilaku tersebut merugikan orang lain.
Bagaimana jika kita menjadi korbannya?
Jika seseorang tiba-tiba memperlihatkan alat kelaminnya kepada kita tanpa persetujuan, itu bukan salah kita. Kita tidak wajib meladeni, berbicara, atau memberikan reaksi tertentu kepada pelaku.
Jika situasinya memungkinkan, segera menjauh dan cari tempat yang aman. Bila diperlukan, mintalah bantuan orang di sekitar atau laporkan kejadian tersebut kepada pihak yang berwenang. Yang perlu diingat, rasa takut, jijik, malu, atau terkejut setelah mengalami kejadian seperti itu merupakan reaksi yang dapat terjadi. Korban tidak perlu menyalahkan dirinya sendiri.
Eksibisionisme bukan sekadar suka memperlihatkan tubuh. Gangguan eksibisionistik membutuhkan penilaian profesional dan tidak bisa ditentukan dari satu kejadian. Yang terpenting, dorongan seksual tidak harus diikuti, terutama jika melibatkan orang lain tanpa persetujuan karena menyangkut batas, keamanan, dan hak mereka.