MATA LELAKI - Pernahkah kalian mengalami situasi saat seseorang yang sempat dekat tiba-tiba menghilang tanpa kabar selama berminggu-minggu, lalu datang kembali seolah semuanya baik-baik saja? Selama mereka menghilang, kalian mungkin merasa bingung, kecewa, bahkan terus memikirkan kembali percakapan atau momen sebelumnya untuk mencari tahu apakah ada kesalahan yang sudah pernah kalian lakukan. Inilah yang disebut dengan ghosting.
Ketika akhirnya muncul lagi, biasanya mereka menghubungi lewat pesan singkat dengan alasan tertentu, misalnya karena sibuk atau banyak pekerjaan. Namun saat kalian mencoba membicarakan sikap mereka yang menghilang, mereka justru menyangkal atau membuatmu merasa berlebihan karena mempermasalahkannya. Inilah yang disebut dengan gaslighting.
Namun bagaimana bila kedua sikap tersebut bersatu? Maka itulah yang disebut dengan ghostlighting.
Apa Itu Ghostlighting?
Source: gqindia.com
Ghostlighting terjadi ketika seseorang tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan, lalu kembali mencoba mengubah cerita, seolah-olah kalian salah menafsirkan apa yang sedang terjadi. Hal ini dijelaskan oleh psikolog klinis sekaligus pendiri Time for Therapy, Kyler Shumway, Psy.D
Menurut Shumway, perilaku ini tidak cuma soal menghilang secara emosional seperti pada ghosting, tetapi juga melibatkan distorsi realitas atau gaslighting. Pelaku sering menghindari tanggung jawab dengan mengatakan bahwa pasangannya terlalu sensitif, atau bahkan menyangkal pernah memiliki hubungan yang serius, meskipun sebelumnya sikap dan perilaku mereka menunjukkan hal yang berbeda.
Perbedaan Ghosting dan Ghostlighting
Source: pinterest.com
Perbedaan mendasar antara sekadar di-ghosting dan menjadi korban ghostlighting terletak pada apa yang terjadi setelah “masa bungkam” tersebut berakhir. Pada ghostlighting, pelaku biasanya kembali muncul dan mencoba memutarbalikkan keadaan, sehingga korban merasa ragu terhadap perasaan atau penilaiannya sendiri tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Menurut Morgnstern, pelaku biasanya akan memberikan alasan yang cenderung menyalahkan korban atau terdengar sangat umum. Dengan cara itu, mereka menghindari tanggung jawab atas perilakunya dan membuat seolah-olah masalah yang terjadi bukan sepenuhnya kesalahan mereka.
Mengapa Ghostlighting Bisa Terjadi?
Source: linkedin.com
Perilaku ini sering terlihat seperti manipulasi yang disengaja, tetapi dalam banyak kasus sebenarnya dipicu oleh kecenderungan menghindari ketidaknyamanan emosional. Psikolog Kyler Shumway menjelaskan bahwa pelaku ghostlighting biasanya tidak berniat menyakiti, melainkan ingin menghindari rasa bersalah atau malu karena tidak mampu mengakhiri hubungan secara jujur.
Saat mereka kembali dan mengecilkan arti dari hilangnya mereka, itu sering menjadi cara untuk meredam rasa bersalah dengan membuat korban merasa salah paham. Meski begitu, tindakan tersebut tetap dapat merusak kepercayaan. Menurut Morgenstern, fenomena ini juga makin sering terjadi karena aplikasi kencan dan media sosial memudahkan orang menghindari percakapan sulit dalam hubungan.
Ciri-ciri Korban Ghostlighting
Source: pexels.com
Sikap yang mudah percaya dan melihat orang lain secara positif sering kali dimanfaatkan oleh pelaku. Akibatnya, korban perlahan mulai meragukan penilaian mereka sendiri, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Kondisi ini bisa menimbulkan rasa malu dan membuat seseorang menjadi lebih tertutup dalam menjalin hubungan di kemudian hari. Berikut beberapa tanda yang menunjukkan bahwa kamu mungkin sedang mengalami ghostlighting.
1. Perkataan tidak sejalan dengan tindakan
Di awal hubungan, mereka mungkin menunjukkan ketertarikan besar dan terlihat sangat menikmati kebersamaan. Namun tiba-tiba mereka menghilang tanpa kabar. Ketika muncul kembali, mereka bersikap santai seakan tidak terjadi apa-apa atau seolah-olah kedua pihak sama-sama sibuk. Ketidaksesuaian antara ucapan dan perilaku ini bisa menjadi tanda awal adanya masalah.
2. Menghindari tanggung jawab
Saat korban mencoba meminta penjelasan, pelaku cenderung tidak memberikan jawaban yang jelas. Alih-alih menjelaskan, pelaku sering mengganti topik pembicaraan atau memutar cerita agar terlihat berbeda dari yang sebenarnya terjadi.
3. Menyalahkan pihak lain
Pelaku sering mencoba memutar keadaan sehingga korban terlihat sebagai penyebab jarak dalam hubungan. Misalnya dengan mengatakan korban terlalu menekan, terlalu berharap, atau salah menafsirkan sikap pelaku. Menurut Morgenstern, tanda bahaya muncul ketika seseorang dengan cepat mengalihkan kesalahan agar korban yang tampak bersalah.
4. Mengaburkan atau mengubah fakta
Pelaku juga kerap mencoba mengubah cara pandang terhadap kejadian yang sebenarnya. Misalnya dengan mengatakan bahwa kalian hanya jarang berkomunikasi, bukan karena pelaku sengaja menghilang. Cara ini membuat perilaku pelaku terlihat lebih wajar dari kenyataannya.
5. Muncul rasa bingung dan tidak tenang
Tanda yang paling jelas ialah seringkali bukan dari ucapan pelaku, tetapi dari perasaan ragu dan gelisah yang muncul dalam diri korban. Shumway menyarankan untuk tidak langsung terpancing emosi, melainkan melihat situasi secara lebih tenang dan objektif. Coba tanyakan pada diri sendiri apakah penjelasan pelaku benar-benar masuk akal, dan apakah pelaku juga mau ikut bertanggung jawab atas masalah yang terjadi.
Setelah mengetahui makna dari ghostlighting di atas, apakah kalian termasuk salah satu korban ghostlighting?