MATA LELAKI - Pernah merasa tidak benar-benar cocok disebut Milenial, tapi juga merasa terlalu tua untuk disebut Gen Z? Jika jawabannya adalah iya, mungkin kalian termasuk ke generasi Zilenial.
Belakangan ini istilah Zilenial atau Zillennial kembali ramai dibicarakan. Istilah ini merujuk pada kelompok yang berada di antara Milenial dan Gen Z, sebuah generasi kecil yang tumbuh ketika dunia sedang mengalami perubahan besar dari era analog menuju era digital.
Jadi, siapa sebenarnya Zilenial?
Source: pexels.com
Tidak ada batas usia yang benar-benar resmi untuk Zilenial. Namun, banyak pembahasan menggunakan rentang kelahiran sekitar 1993 hingga 1998.
Posisi mereka cukup unik. Di satu sisi, mereka masih memiliki banyak pengalaman khas Milenial. Mereka mungkin pernah menggunakan telepon rumah, menonton televisi dengan jadwal tertentu, menyimpan lagu dalam bentuk CD atau MP3, hingga bermain tanpa internet. Namun di sisi lain, mereka juga tumbuh menjadi orang dewasa di tengah perkembangan internet, media sosial, smartphone, streaming, dan berbagai teknologi digital.
Dengan kata lain, Zilenial adalah generasi yang mengalami dunia sebelum semuanya serba online, tetapi kemudian menjadi dewasa ketika hampir semuanya sudah digital.
Pernah merasakan dua dunia
Inilah salah satu hal yang membuat Zilenial menarik. Anak-anak Zilenial mungkin masih ingat bagaimana rasanya menunggu lagu favorit diputar di radio. Mereka mungkin pernah menggunakan SMS, memiliki akun Friendster atau Facebook, dan mengunduh lagu satu per satu.
Namun ketika memasuki usia remaja dan dewasa, mereka mulai mengenal Instagram, YouTube, Twitter, smartphone, layanan streaming, hingga berbagai aplikasi yang sekarang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka bukan generasi yang lahir bersama smartphone. Mereka adalah generasi yang menyaksikan smartphone mengubah kehidupan manusia.
Perbedaan pengalaman ini membuat Zilenial sering dianggap sebagai semacam "jembatan" antara dua generasi.
Source: pexels.com
Milenial tapi kemudaan, Gen Z tapi ketuaan
Masalahnya, label generasi sering membuat Zilenial merasa berada di posisi yang aneh. Ketika berbicara dengan Milenial, mereka mungkin dianggap terlalu muda. Ketika berbicara dengan Gen Z, mereka bisa dianggap terlalu tua.
Mereka mungkin masih memahami beberapa kebiasaan generasi Milenial, tetapi pada saat yang sama cukup akrab dengan budaya internet yang identik dengan Gen Z. Karena itu, banyak Zilenial akhirnya merasa bahwa kedua label tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan pengalaman mereka. Di situlah istilah Zilenial terasa relevan.
Zilenial dan nostalgia yang berbeda
Salah satu karakter yang sering dikaitkan dengan Zilenial adalah hubungan mereka dengan nostalgia. Mereka hidup di masa ketika hiburan tidak sepenuhnya bergantung pada algoritma.
Untuk mendengarkan musik, misalnya, seseorang harus mencari lagu, membeli CD, mengunduh MP3, atau menunggu lagu favorit diputar di radio. Untuk menonton film atau serial, pilihan juga jauh lebih terbatas dibandingkan sekarang.
Sekarang, hampir semua hiburan dapat ditemukan dalam hitungan detik. Ironisnya, justru karena pernah mengalami masa sebelum semuanya serba instan, Zilenial sering memiliki rasa nostalgia yang kuat terhadap kehidupan yang lebih sederhana.
Tapi Zilenial juga sangat digital
Jangan salah mengira bahwa Zilenial adalah generasi yang gagap teknologi. Justru sebaliknya. Mereka mengalami proses perubahan teknologi secara langsung sehingga relatif terbiasa beradaptasi.
Mereka tahu bagaimana rasanya hidup tanpa internet, tetapi juga tahu bagaimana memanfaatkan internet untuk bekerja, berkomunikasi, mencari informasi, membangun bisnis, hingga mencari hiburan. Kemampuan beradaptasi inilah yang membuat Zilenial sering dipandang sebagai kelompok yang memiliki pengalaman dari dua era.
Pembahasan mengenai generasi ini juga semakin relevan ketika teknologi baru seperti AI mulai mengubah cara manusia bekerja dan berkomunikasi. Di Indonesia sendiri, perkembangan penggunaan AI dan teknologi digital semakin terlihat dalam berbagai kelompok usia.
Source: pexels.com
Zilenial bukan sekadar soal tahun lahir
Namun, menjadi Zilenial sebenarnya tidak hanya ditentukan oleh angka tahun kelahiran. Dua orang yang lahir pada tahun yang sama belum tentu memiliki pengalaman yang sama. Seseorang yang tumbuh di kota besar dengan akses internet sejak kecil mungkin memiliki pengalaman yang berbeda dengan seseorang yang baru mengenal internet ketika sudah remaja.
Karena itu, istilah Zilenial lebih tepat dipahami sebagai gambaran pengalaman sebuah kelompok yang tumbuh di masa transisi, bukan sebagai kategori ilmiah yang memiliki batas mutlak.
Ketika Zilenial mulai memasuki fase "orang dewasa"
Ada alasan lain mengapa Zilenial semakin sering dibicarakan. Kelompok ini kini sudah berada pada usia ketika banyak orang mulai memikirkan hal-hal yang lebih serius: karier, pernikahan, keluarga, investasi, hingga rumah. Persoalannya, kehidupan dewasa mereka juga datang bersamaan dengan biaya hidup yang semakin tinggi.
Dalam konteks properti, misalnya, kelompok Milenial dan Zilenial disebut menghadapi kesulitan membeli rumah bukan karena tidak menginginkannya, tetapi karena harga rumah dan daya beli tidak selalu berjalan seimbang. Sebagian akhirnya memilih menyewa tempat tinggal.
Jadi, kalau dulu pembahasan mengenai Zilenial lebih banyak berkaitan dengan nostalgia dan budaya internet, sekarang pembahasannya mulai bergeser ke bagaimana generasi ini menjalani kehidupan dewasa.
Generasi yang hidup di tengah perubahan
Mungkin inilah alasan mengapa Zilenial terasa begitu relevan. Mereka adalah generasi yang pernah merasakan dunia tanpa media sosial, tetapi sekarang hidup di tengah budaya digital. Mereka pernah bermain tanpa internet, tetapi sekarang bekerja menggunakan internet. Mereka pernah menyimpan foto di kamera digital, tetapi sekarang menyimpan ribuan foto di cloud. Mereka pernah menunggu seseorang membalas SMS, tetapi sekarang merasa aneh jika pesan WhatsApp tidak dibalas dalam beberapa menit. Mereka mengalami perubahan itu secara langsung.
Dan mungkin karena itulah Zilenial memiliki satu karakter yang cukup khas, mereka tahu bagaimana rasanya hidup sebelum dunia menjadi seperti sekarang.
Pada akhirnya, Zilenial bukan benar-benar generasi yang "terjebak" di antara Milenial dan Gen Z. Mereka justru merupakan generasi yang berdiri di tengah dua dunia, yaitu dunia lama yang masih mereka ingat dan dunia digital yang sekarang mereka jalani. Mungkin itu sebabnya banyak orang yang masuk dalam kelompok ini akhirnya berkata "Gue bukan Milenial. Tapi juga bukan Gen Z." Mungkin jawabannya sederhana: "Lo Zilenial."
