MATA LELAKI - Di tengah kehidupan yang serba cepat, banyak orang merasa harus terus menunjukkan pencapaian. Naik jabatan, mendapatkan penghasilan lebih besar, memiliki pekerjaan bergengsi, hingga membagikan berbagai pencapaian di media sosial seolah menjadi ukuran keberhasilan.
Namun, tidak semua orang ingin menjalani hidup dengan cara seperti itu. Ada orang yang tetap bekerja keras, berkembang, dan merasa bahagia, tetapi tidak merasa perlu menunjukkan semuanya kepada orang lain. Kondisi inilah yang belakangan dikenal dengan istilah quiet thriving.

Source: pexels.com
Apa Itu Quiet Thriving?
Secara sederhana, quiet thriving dapat diartikan sebagai proses berkembang dan menjalani hidup dengan lebih baik secara tenang, tanpa merasa harus mendapatkan pengakuan dari orang lain. Istilah ini bukan berarti seseorang kehilangan ambisi atau tidak ingin maju. Sebaliknya, seseorang tetap memiliki tujuan dan berusaha berkembang, tetapi lebih fokus pada apa yang benar-benar membuat hidupnya bermakna.
Dalam karier, misalnya, seseorang mungkin tidak mengejar jabatan setinggi-tingginya. Ia lebih memilih pekerjaan yang memberikan penghasilan cukup, lingkungan kerja yang sehat, serta waktu yang seimbang untuk kehidupan pribadi.
Sementara dalam kehidupan sehari-hari, quiet thriving bisa terlihat dari seseorang yang mulai lebih memperhatikan kesehatan, menikmati waktu bersama keluarga, menjalankan hobi, atau sekadar memiliki waktu untuk dirinya sendiri.
Quiet Thriving dalam Karier
Karier sering kali menjadi salah satu sumber tekanan terbesar. Banyak orang merasa harus selalu produktif, mengejar promosi, bekerja lebih lama, dan menunjukkan bahwa dirinya lebih unggul dibandingkan rekan kerja. Padahal, perkembangan dalam karier tidak selalu harus terlihat spektakuler.
Seseorang yang mulai mampu mengatur pekerjaan dengan lebih baik, berani menetapkan batasan, meningkatkan kemampuan, atau menemukan cara bekerja yang lebih nyaman juga termasuk sedang berkembang. Misalnya, seorang karyawan memilih untuk tidak selalu lembur karena ingin memiliki waktu bersama keluarga. Ia tetap menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, tetapi tidak lagi merasa harus mengorbankan seluruh waktunya demi terlihat sebagai karyawan paling sibuk.
Itulah salah satu bentuk quiet thriving, tetap bertanggung jawab terhadap pekerjaan, tetapi tidak membiarkan pekerjaan mengambil seluruh kehidupan.
Source: pexels.com
Tidak Harus Selalu Mengejar Jabatan
Ada anggapan bahwa karier yang sukses harus selalu ditandai dengan kenaikan jabatan. Padahal, setiap orang memiliki definisi sukses yang berbeda. Bagi sebagian orang, menjadi manajer mungkin merupakan tujuan. Bagi yang lain, memiliki pekerjaan yang stabil, penghasilan yang cukup, dan waktu bersama keluarga justru lebih penting.
Quiet thriving mengajarkan bahwa seseorang tidak harus mengikuti standar kesuksesan orang lain. Selama pekerjaan yang dijalani memberikan ruang untuk berkembang dan sesuai dengan nilai yang dianggap penting, pilihan tersebut tetap memiliki makna.
Quiet Thriving dalam Kehidupan
Konsep ini juga tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan. Dalam kehidupan pribadi, quiet thriving bisa berarti mulai membangun kehidupan yang terasa lebih nyaman dan sesuai dengan kebutuhan diri sendiri. Contohnya sederhana. Mulai tidur lebih teratur, rutin berolahraga, mengurangi aktivitas yang tidak perlu, meluangkan waktu untuk orang-orang terdekat, atau kembali melakukan hobi yang sempat ditinggalkan.
Tidak ada yang terlihat terlalu spektakuler dari luar. Namun, perubahan kecil tersebut bisa membuat seseorang merasa hidupnya jauh lebih baik. Sebab, berkembang tidak selalu berarti menjadi seseorang yang benar-benar berbeda. Terkadang, berkembang berarti menjadi versi diri sendiri yang lebih tenang, sehat, dan bahagia.
Tidak Perlu Membuktikan Semuanya
Salah satu hal menarik dari quiet thriving adalah perubahan cara seseorang melihat pencapaian. Ketika sebelumnya seseorang mungkin merasa perlu menceritakan setiap keberhasilannya, kini ia bisa merasa cukup dengan mengetahui bahwa dirinya telah berkembang.
Bukan berarti berbagi pencapaian adalah sesuatu yang salah. Masalahnya muncul ketika seseorang merasa harus terus mendapatkan pengakuan agar merasa dirinya berharga. Dalam quiet thriving, kepuasan tidak selalu datang dari tepuk tangan orang lain. Ada kalanya seseorang cukup merasa bangga karena mengetahui bahwa dirinya sudah bekerja keras dan membuat kemajuan.
Source: pexels.com
Bukan Berarti Kehilangan Ambisi
Penting untuk memahami bahwa quiet thriving bukan berarti menjadi malas, pasif, atau berhenti memiliki ambisi. Seseorang tetap bisa memiliki target besar. Bedanya, ia tidak lagi menjadikan pencapaian sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan.
Ia bisa mengejar karier sekaligus menjaga kehidupan pribadi. Bisa ingin mendapatkan penghasilan lebih besar tanpa merasa harus mengorbankan kesehatan. Bisa ingin sukses tanpa harus terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain. Dengan kata lain, ambisi tetap ada, tetapi kehidupan tidak hanya berpusat pada ambisi tersebut.
Menemukan Versi Sukses yang Lebih Personal
Pada akhirnya, quiet thriving mengajak kita untuk mempertanyakan kembali arti kesuksesan. Apakah sukses harus selalu terlihat dari jabatan? Apakah hidup yang baik harus selalu terlihat menarik di media sosial? Atau sebenarnya kesuksesan juga bisa berupa memiliki pekerjaan yang sehat, hubungan yang baik, waktu untuk keluarga, dan pikiran yang lebih tenang? Tidak ada jawaban yang sama untuk semua orang.
Setiap orang memiliki kebutuhan, prioritas, dan tujuan yang berbeda. Karena itu, tidak masalah jika perjalanan hidup kita terlihat biasa saja di mata orang lain, selama kita merasa sedang berjalan ke arah yang benar.
Quiet thriving bukan tentang berhenti mengejar kehidupan yang lebih baik. Ini tentang tetap berkembang, tetapi dengan cara yang lebih tenang, lebih sadar, dan lebih sesuai dengan diri sendiri.