MATA LELAKI - Mungkin beberapa dari kalian pernah mendengar istilah BDSM. Salah satu dari BDSM itu adalah Shibari, atau aktivitas seksual dengan cara mengikat pasangannya. Shibari bukan cuma soal tali. Buat sebagian orang, diikat bukan berarti ingin disakiti, bukan juga karena mereka "aneh". Di balik praktik ini, ada unsur psikologi, kepercayaan, komunikasi, hingga pengalaman emosional yang jauh lebih kompleks daripada yang terlihat dari luar. Lalu, kenapa ada orang yang justru menikmati sensasi diikat?
1. Bukan Soal "Sakit", tapi Soal Rasa
Source: favo.id
Banyak orang mengira shibari atau rope bondage hanya soal rasa sakit. Padahal, bagi sebagian pelakunya, yang dicari justru adalah pengalaman emosional. Ada rasa percaya yang besar kepada pasangan, ada komunikasi yang intens, dan ada perasaan aman karena tahu batasan masing-masing. Itulah yang membuat pengalaman ini terasa berbeda.
2. Sensasi Tekanan Membuat Tubuh Lebih Peka
Source: welt.de
Saat tali memberikan tekanan pada tubuh sekaligus membatasi gerakan, fokus seseorang bisa lebih tertuju pada sensasi yang dirasakan. Akibatnya, sentuhan ringan sekalipun dapat terasa lebih intens karena perhatian benar-benar terpusat pada tubuh dan momen yang sedang dijalani.
3. Melepaskan Kendali Bisa Terasa Menenangkan
Source: gofeminin.de
Tidak semua orang ingin selalu menjadi pihak yang memegang kendali. Bagi sebagian orang, menyerahkan kontrol kepada pasangan dalam situasi yang sudah disepakati justru dapat memberikan rasa yang lega. Mereka tidak perlu memikirkan apa pun selama beberapa saat dan hanya fokus menikmati pengalaman tersebut.
4. Semua Bergantung pada Komunikasi
Source: studiokingofficial.com
Diikat membuat seseorang dalam posisi yang sangat rentan. Karena itu, praktik ini hanya bisa dilakukan jika saling memiliki rasa kepercayaan, komunikasi yang jelas, serta persetujuan dari semua pihak yang terlibat. Tanpa ketiga hal tersebut, praktik ini tidak seharusnya dilakukan.
5. Ada Dinamika Dominan dan Submisif
Source: popbela.com
Dalam praktik BDSM, sering sekali ada pembagian peran antara pihak-pihak yang memegang kendali (dominan) dan pihak yang menyerahkan kendali (submisif). Bagi sebagian orang, dinamika ini menjadi cara yang aman untuk mengeksplorasi peran, kepercayaan, dan kedekatan emosional, selama semuanya dilakukan secara sadar dan atas dasar persetujuan kedua belah pihak.
6. Shibari Juga Dianggap Seni
Source: Tailor
Tidak semua orang menikmati Shibari karena alasan seksual. Banyak yang menganggapnya sebagai bentuk seni karena pola tali, bentuk tubuh, serta teknik ikatan yang menghasilkan visual yang indah. Bahkan, ada komunitas yang mempraktikkannya sebagai ekspresi artistik tanpa konteks seksual.
7. Tidak Cocok untuk Semua Orang
Source: Tailor
Tidak semua orang nyaman jika kehilangan kendali, dibatasi geraknya, atau merasakan tekanan dari tali. Selain itu, mencoba Shibari tanpa pengetahuan yang benar juga berisiko menyebabkan cedera, seperti gangguan saraf, gangguan sirkulasi darah, hingga kecelakaan yang serius. Karena itu, aspek keselamatan harus menjadi prioritas yang utama.
Pada akhirnya, Shibari bukan soal "aneh" atau "normal", melainkan soal preferensi. Yang terpenting, semua dilakukan dengan kepercayaan, komunikasi, saling setuju, dan tetap mengutamakan keamanan.