Sin City Kawasan Prostitusi Underground di Negara Tiongkok

Sin City Kawasan Prostitusi Underground di Negara Tiongkok

MATA LELAKI -  - Bagi para pengusaha, salah satu menjamu client bisa mengajaknya ke tempat karaoke atau rumah bordil. Di tempat ini, para lelaki hidung belang bisa memilih "mamasan," atau para wanita yang biasa menjajakan tubuhnya. Para "Mamasan" sebagian besar berasal dari China, namun ada juga yang datang dari Jepang, Korea dan Rusia yang mematok harga layanan paling mahal. 

#
Sumber : Chinatrips


Di Tiongkok sendiri, praktik prostitusi memang hal yang legal.Pada Februari 2014 lalu, pemerintah China telah menggeledah dan menutup 2.000 hotel, sauna dan panti pijat yang melayani jasa prostitusi. Dongguan sendiri merupakan kota, yang berada di wilayah China selatan. DI tempat ini, dijuluki sebagai sin city, karena banyaknya tempat - tempat prostitusi di kota ini.

Prostitusi Tertutup

Dengan harga sekitar 1000 s/d 2000 yuan, atau dirupiahkan sebesar IDR 2.100.000. Para pria hidung belang, bisa mendapatkan layanan pijat selama 90 menit dengan dua wanita China yang cantik. Layanan ini umumnya ditawarkan oleh para supir maupun pesuruh hotel ketika wisatawan asing mengunjungi kota ini. Jika para wisatawan setuju, para sopir dan pesuruh hotel akan memesan wanita tuna susila untuk mereka. 

#
Sumber: The Telegraph

Meski restoran, panti pijat dan tempat sauna ditutup, bukan berarti praktik pelacuran hilang di Dongguan. Industri perdagangan seks disinyalir masih berjalan di 'Sin City' meski dilakukan dengan tertutup dan tidak mencolok seperti sebelumnya. 


Lewat Media Sosial 

Berkat kecanggihan teknologi, kini di China bisa memesan wanita prostitusi lewat sosial media. Menggunakan WeChat, aplikasi media sosial yang terkenal di China. Tempat karaoke memang ditutup, tapi tetap dijadikan tempat menunggu oleh sebagian besar pekerja seks komersial, yang menggunakan WeChat untuk menjaring pelanggan. 

Dengan mengklik 'orang-orang terdekat' dan 'wanita' di aplikasi tersebut, profil wanita tuna susila pun dapat diakses, yang biasanya menampilkan foto yang seronok. Namun, pemerintah China pun dilaporkan menindak keras konten seksual, sehingga bisnis pelacuran online ini pun terancam hilang. 

Sejumlah media China melaporkan perdagangan seks telah bergeser hingga ke rumah-rumah dengan cara pemesanan. 

Kekerasan terhadap pekerja seks

Tampaknya kekerasan, tidak pernah jauh dari industri seks ini. Human Rights Watch melaporkan sekitar 2.013 pekerja seks di China mengalami kekerasan dari polisi, berupa penahanan sewenang-wenang dan tes HIV yang koersif. Pihak kepolisian juga sering mengabaikan kasus kejahatan yang menimpa para pekerja seks. 

#
Sumber : Culture info


Global Times, surat kabar Tiongkok yang pro-pemerintah menyatakan bahwa penggeledahan tersebut merugikan kelompok tuna susila dan menyatakan "kebebasan seksual merupakan hak asasi manusia." Juru bicara organisasi hak pekerja seks komersial, Ann Lee berharap bisnis prostitusi dapat menjadi "satu kegiatan usaha yang normal" dengan kontrol dan peraturan sehat.

Leave a Comment