Profile Model Michelle Tahalea, Model Eksotis Dari Indonesia Timur

Profile Model Michelle Tahalea, Model Eksotis Dari Indonesia Timur

MATA LELAKI - Michelle sudah menekuni dunia model sejak nusainya masih kecil. Michelle merupakan anak ketiga dari pasangan Johnny Alexander Tahalea dan Brigitta Margareth Rose Tahalea yang sejak kecil sudah diperkenalkan dengan berbagai macam aktivitas seperti olahraga yakni bulutangkis dan bidang seni musik bermain piano. Akan tetapi, Michelle lebih tertarik untuk menekuni dunia modelling karena berpendapat bahwa di dunia modelling itu dirinya bisa mengeksplorasi lebih jauh dari kemampuannya di depan kamera dan berjalan di atas karpet catwalk.

Michelle Agnes Samantha Tahalea sudah masuk dalam jajaran top model Indonesia yang memiliki tinggi badan 177 cm. Kiprahnya sebagai seorang model profesional sangatlah baik di mata desainer ternama di indonesia. Dirinya kerap menjadi seorang muse yakni peraga utama yang tampil paling pertama dan terakhir di atas catwalk. Michelle Tahalea juga menjadi icon di ajang Jakarta Food and Fashion Festival. Semua raihan prestasi di dunia modelling tentunya tidak lepas dari izin dan juga restu ayahnya yang pada awalnya menolak keras Michelle untuk menjadi seorang model.

#
Foto: MataMata

 

Awalnya, pihak keluarga terutama ayah dari Michelle menolak karena lebih menginginkan anaknya menjadi seorang wanita karir kantoran yang memakai baju formal. Mengingat dirinya mengenyam bangku kuliah di Universitas Trisakti dengan mengambil jurusan komunikasi visual yang saat itu belum ada gambaran lulusannya akan bekerja di mana. Karena dirinya yang ingin menjadi model, Michelle secara diam – diam mengikuti kegiatan modelling sejak SMA kelas tiga. Dirinya sengaja mengikuti kegiatan itu secara sembunyi – sembunyi untuk menghindari amarah dari orang tuanya.

Sikap berbeda justru ditunjukkan oleh ibunya yang mendukung Michelle dalam mengikuti berbagai kegiatan di luar kuliah selama kegiatan itu positif. Itulah mengapa sejak kecil dirinya dan kakaknya Monita Tahalea selalu diikutsertakan dalam berbagai kegiatan seperti olahraga bulu tangkis dan juga les piano. Selain itu kegiatan renang juga kerap diikuti kedua kakak beradik itu sebelum terkenal menjadi seorang model. Semua kegiatan tersebut michelle ikuti sampai ketika dirinya duduk di bangku SMP.

#
Foto: Amadina Blog

 

Usia remaja memang usia dimana seseorang memiliki berontak dalam dirinya untuk menemukan jati dirinya. Hal inilah yang dialami sendiri oleh Michelle yang ingin menghentikan semua kegiatan olahraga dan les pianonya tersebut. Dirinya mengaku lelah dan ingin lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah saja. Hal tersebut berbanding terbalik dengan kakaknya Monita Tahalea yang malah berkecimpung di dunia musik dengan mahir memainkan alat musik gitar dan memiliki suara yang bagus dalam dunia musik.

Wanita kelahiran 6 Oktober 1989 yang menggemari novel detektif ini juga menceritakan bahwa ibunya sangat antusias ketika dirinya mendapatkan job di dunia modelling. Sikapnya yang santai dan hanya menghabiskan waktunya di rumah membuat ibunya gemas karena waktunya terbuang untuk hal – hal yang tidak perlu, itulah mengapa ibunya selalu “melindungi” dirinya ketika ada tawaran menjadi model. Menurut Michelle, dirinya tertarik untuk menggeluti dunia modelling bukan karena kehidupan glamor yang banyak dijalani oleh para model papan atas.

#
Foto: MataMata

 

Michelle tertarik pada pekerjaan seni yang ada di perhelatan peragaan busana dan juga dunia fotografi pada majalah. Setiap orang yang terlibat dalam industri tersebut menurut Michelle memiliki karya yang indah sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang enak untuk dipandang mata. Michelle tidak ingin mengecewakan ayahnya meskipun dirinya sempat dilarang untuk bergelut di dunia model. Oleh karenanya dia berusaha semampunya untuk bisa menyeimbangkan antara pendidikan kuliahnya dengan dunia modelling yang dia tekuni selama duduk di bangku kuliah.

Michelle ingin menunjukkan kepada ayahnya bahwa dirinya bisa bertanggung jawab dengan keputusan yang diambilnya. Hal itu dibuktikan dengan meraih IPK 3.5 dengan waktu kuliah yang cukup singkat yakni hanya 3,5 tahun saja. Di samping itu, ilmu komunikasi visual yang dipelajarinya selama bangku kuliah juga tidak dia sia – siakan dengan membuat bisnis jasa desain kemasan untuk bungkusan dan juga souvenir. Bersama ketiga temannya, dirinya meluncurkan produk tersebut bernama Pop and Fold. Namun, hal tersebut dilakukan sebagai pekerjaan sampingan untuk mengisi waktu luangnya dikala kesibukan melakukan pemotretan.

Leave a Comment