Kawasan Senggigi, Terkenal Dengan Wisata Dunia Malam

Kawasan Senggigi, Terkenal Dengan Wisata Dunia Malam

Matalelaki.com - Setiap daerah di Indonesia memiliki kisah dunia malam yang sepertinya sayang untuk dilewatkan. Kisah – kisah tersebut tentunya memberikan rasa penasaran kepada para penggiat kehidupan malam yang berada di suatu tempat. Ada sebuah kisah menarik mengenai dunia malam Lombok Mataram, Nusa Tenggara Barat yang akan kami ulas dalam artikel pendek kali ini.

Kawasan Senggigi, terkenal dengan wisata malam yang menjadi destinasi para penggiat dunia malam. Bagaimana tidak, di tempat itu terdapat banyak lokasi – lokasi hiburan malam seperti Karaoke, kelab – kelab malam, bahkan jika anda telusuri lebih lanjut lagi, ada beberapa lokasi yang menawarkan wisata syahwat. Salah satu fenomena dari lokasi dunia malam Lombok Mataram itu adalah terdapatnya PS atau Partner Song. Di lokasi lain, PS ini hampir sama dengan LC, akan tetapi di kawasan Senggigi ini, Partner Song identik dengan wanita – wanita yang berpakaian minim yang siap menemani tamunya.

#

Bagi penduduk sekitar, keberadaan para PS dianggap sebagai sesuatu yang dapat menimbulkan efek buruk, karena para PS ini tidak saja melayani jasa untuk menemani berkaraoke, tetapi juga mereka membuka layanan khusus bagi tamu yang akan membayar dengan tarif yang sudah ditentukan. Sudah bukan menjadi rahasia lagi, para PS ini biasanya berada di diskotik atau kafe tertentu, dan bisa dibawa ke hotel oleh tamu yang menyewa jasanya.

Namun, tidak semua PS membuka jasa booking ke hotel. Beberapa PS ada yang memang bekerja murni sebagai Pemandu Lagu tanpa membuka jasa layanan booking ke hotel. Untuk menemukan PS sendiri bisa ditandai dari penampilannya. Jika anda masuk ke sebuah kafe, biasanya di sudut ruangan ada seseorang yang memiliki ekspresi wajah berbeda. Dia mengomandoi anak buahnya yang merupakan PS agar melayani tamu yang datang.

Memiliki Paguyuban Atau Komunitas

#
Foto: LCkaraoke.com

 

PS di wilayah Senggigi ini memiliki sebuah paguyuban atau perkumpulan resmi yang terkorrdinir. Ada seorang “papi” yang mengkoordinir semua para PS ini. Bahkan si papi ini harus mencari kandidat PS sampai ke luar daerah lombok. Mayoritas PS yang ada di bawah asuhannya berasal dari Pulau Jawa. Menurutnya, pola perekrutan PS ini tidaklah sembarangan. Dirinya harus menjelaskan terlebih dahulu kepada si kandidat tersebut mengenai jenis pekerjaan yang akan dijalaninya. Si papi ini mengaku mendapatkan fee sebesar 500 ribu rupiah jika mendapatkan kandidat yang mau bergabung dari agency nya.

Menurut papi ini, tidak semua PS yang berada di bawah asuhannya menerapkan sistem Booking ke Hotel. Jikalau pun ada, itu hanyalah PS yang bertransaksi di luar jam kerjanya. Semua anak asuhnya memang dilarang untuk menerima bookingan hotel. Namun, papi tersebut juga memaklumi akan kebutuhan dari anak buahnya tersebut yang berada jauh dari kampung halaman, sehingga memang membutuhkan dana yang lebih untuk bisa mengirim kepada keluarganya atau hanya sekedar bertahan hodup di Lombok.

Masih menurut papi, adanya paguyuban atau kumpulan PS – PS yang bekerja di Senggigi juga sebagi sarana untuk saling berkoordinasi dan komunikasi dengan perusahaan yang mempekerjakan si PS itu. Tujuannya agar mereka juga mendapatkan hak perlindungan, sebab tidak jarang juga ada tamu yang memperlakukan PS tersebut secara semena – mena. Selain itu juga paguyuban bisa mendata nama – nama PS yang terdaftar, sebab ada juga warga asli Lombok sana yang berprofesi sebagai PS Freelance, dan mereka bukan warga pendatang sehingga tidak berada di dalam paguyuban tersebut.

Don’t judge Them By Cover

#
Foto: jakarta100bars.com

 

Pada dasarnya, PS ini adalah seorang wanita yang pekerjaannya harus bertarung dengan dunia malam Lombok Mataram. Terkadang ada rasa takut, terkadang juga mereka merasa senang. Takut jika mendapatkan tamu yang notabene pria asing yang belum tahu bagaimana tabiat dan wataknya dalam memperlakukan seorang wanita. Mereka juga merasa senang, jika memang mereka diperlakukan layaknya seorang wanita bisa yang ingin dimanja dan juga dilindungi selama mereka melayani tamunya.

Itulah yang dirasakan oleh Alin (nama samaran) yang sudah hampir selama 8 tahun menjalani profesinya sebagai seorang Partner Song. Pengalaman selama 8 tahun itulah yang membuatnya lebih mengenal watak atau karakter asli dari tamunya meskipun baru pertama kali bertemu. Menurutnya, tidak semua PS yanga da di Senggigi ini seperti apa yang ditafsirkan oleh masyarakat di sana. Ada PS yang memang “nakal” yang mau menerima tawaran untuk Booking Order, namun tidak sedikit juga yang tetap menjaga kehormatannya.

#
Foto: LCkaraoke.com

 

Alin sendiri memiliki trik untuk menolak ajakan pria hidung belang yang ingin mengajaknya BO di Hotel. Alin menjelaskan bahwa dia datang dari jauh untuk mencari penghasilan. Biasanya dia akan menolak secara halus jika ada tamu yang menyebalkan, namun dia juga akan menolak jika ada tamu yang mengajaknya berhubungan badan dengan mengatakan bahwa dirinya sedang haid.

Keberadaan para PS itu sejatinya adalah para pencari nafkah yang berangkat dari kampung halamannya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak di tanah orang lain. Meskipun penampilan mereka terlihat begitu seksi dengan pakaian yang serba minim, namun mereka juga akan kecewa jika di cap sebagai biang keladi menjamurnya praktek prostitusi. Kalau pun ada diantara mereka yang melakukan hal demikian, percayalah bahwa yang mereka lakukan itu bukan hal yang menyangkut kepercayaan atau budaya tertentu, akan tetapi karena kebutuhan pribadi dari para PS itu yang mungkin saat itu mereka sedang memiliki kebutuhan, namun tidak tahu harus meminta bantuan ke mana.

Leave a Comment