Ketika Tarif Cukai Bir akan Naik, Setuju atau Tidak?

Ketika Tarif Cukai Bir akan Naik, Setuju atau Tidak? Sumber: facebook.com

MATA LELAKI - Bulan ini, kita tentu mendengar dan menyaksikan drama yang melibatkan sektor industri minuman beralkohol di Indonesia yang sepertinya masih jauh dari ‘kata sepakat’ dan itu melibatkan setiap stakeholder-nya. Salah satu yang membuat heboh, adalah kebijakan pembatasan dan juga peredaran distribusi minuman beralkohol di berbagai gerai mini market yang ada di Indonesia. Permendag no. 6 tahun 2015, anda bisa melihat sendiri bagaimana isi undang-undangnya.

Masih berhubungan dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, baru-baru ini Menteri Keuangan Sri Mulyani, melalui instansi kementrian yang dipimpinnya, memutuskan akan menaikkan tarif cukai untuk Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) dengan kadar alkohol di bawah 5%, dari harga Rp 13.000 menjadi Rp 15.000 per liternya. Peraturan ini sendiri sudah diundangkan pada tanggal 13 Desember 2018 kemarin dan efektif berlaku mulai pada tanggal 1 Januari 2019.

#
Sumber: okezone.com

 

Keputusan ini saja, tentu mendapatkan respon penolakan dari para produsen bir lokal. Mereka menolak dengan alasan kalau industri bir di Indonesia masih dalam tahap pertumbuhan market. Jika pertumbuhan mengarah ke positif, tentu saja pemerintah bisa mendapatkan uang cukai dalam jumlah yang lebih besar di sektor bir ini.

Hal ini juga diungkapkan oleh Bambang Britono yang merupakan Direktur PT Multi Bintang Indonesia. Pihaknya sangat keberatan dengan kenaikan cukai bir karena industri birnya sendiri sedang lesu sejak 2014 hingga 2018 ini dan cenderung mengalami penurunan tren. Lagi, dengan tidak berkembangnya industri bir lokal saat ini disebabkan oleh putusnya jalur distribusi ke pengecer sebagai salah satu dampak adanya undang-undang dari Permendag No. 6/2015. 

#
Sumber: Okezone

 

Sedangkan untuk para peran pengecer ini dirasa sangat perlu dan penting mengingat konsumen mempunyai pilihan untuk membeli bir dan dibawa pulang, selain untuk dikonsumsi di tempat-tempat seperti bar, cafe, atau restoran. Selain para produsen bir lokal, yang juga akan terkena dampak adalah pemerintah sendiri. Tapi tentu saja, pemerintah punya jawabannya sendiri kenapa menaikkan bea cukai bir.

Dari sisi pemerintah sendiri, kenaikan cukai bir ini dirasa perlu karena selama empat tahun terakhir ini industri minuman beralkohol golongan A mengalami stagnansi. Kenaikan cukai ini juga merupakan bentuk penyesuaian pemerintah terhadap inflasi. Selama ini, produsen bir cenderung menaikkan harga jual eceran di setiap tahunnya. Tapi, selama 4 tahun ini, cukainya tidak mengalami kenaikkan, sehingga dilihat dari sisi rasio pembayaran cukai, omzetnya menurun dari tahun ke tahun.

#
Sumber: pixabay.com

 

Mungkin memang ada baiknya jika pemerintah dan produsen bir duduk bersama membahas masalah ini. Jika perlu, bisa mengundang para stakeholder terkait di luar dua institusi tersebut. Sebut saja, seperti pengamat sosial, dokter sampai penikmat bir pada umumnya. Nantinya, keputusan yang diambil tidak hanya saja menguntungkan satu pihak tapi bisa menguntungkan dan memberikan win-win solution bagi banyak pihak.

Leave a Comment