Jakarta Tempat Wanita Asing Menjajakan Diri

Jakarta Tempat Wanita Asing Menjajakan Diri

MATA LELAKI - Pelacur asing atau import, ternyata banyak mendatangi kota Jakarta. Melihat sebagai kota dengan, ladang yang subur. Banyak dari pelacur ini, datang dari negara mereka untuk memperbaiki nasib di Jakarta. Alasan lain, orang Indonesia suka yang berbau asing untuk mendongkrak gengsi alias prestise. Yang paling menonjol pelacur asing ‘berdagang’ di Jakarta, dari Tiongkok dan Uzbekistan, bahkan menjadi primadona. Mereka praktik di tempat hiburan malam, mandi uap, spa, panti pijat, dan tempat khusus yang rahasia. Semuanya terselubung.

#
Sumber : Jakarta100bars

 

 

Sebut saja namanya Li Lie (25 Tahun), seorang PSK asal Tiongkok di salah satu tempat hiburan malam di Jakarta. Li memutuskan untuk pindah ke Jakarta, karena kemiskinan yang menimpa keluarganya. Li Lie yang bekerja sebagai terapis pijat plus di salah satu tempat hiburan kawasan Glodok ini, dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata mengaku, keluarganya bergantung hidup dengan hasil laut. “Keluarga saya nelayan,” ungkapnya.

Meski usia muda, wanita imut ini merupakan seorang janda anak satu. Suaminya pergi meninggalkannya begitu saja dengan alasan bekerja, hingga kini tidak pernah kembali. Sebelum bertolak ke Indonesia, berbagai profesi diungkapkan Li Lie telah digelutinya. Mulai dari menjadi penjaga toko sampai tukang cuci. Sayangnya hal itu tidaklah cukup untuk menghidupi orang tua dan anaknya.

Bekerja Lewat Agen

Agen atau biasa disebut mami, hanya menawarkan pekerjaan wanita luar untuk ke datang ke Jakarta. Limpahan uang yang dijanjikan membuat dia tergiur menjalani profesi hitam ini. Terlebih berdasarkan informasi bahwa di Jakarta banyak terdapat warga keturunan Tiongkok yang membuat makin yakin akan mudah beradaptasi. “Saya betah di Jakarta,” ucapnya.

Semua akomodasi dan biaya hidup di Jakarta, ditanggung oleh sang agen. Mulai dari biaya hidup dan tempat tinggal, sang wanita langsung dilatih setibanya di Jakarta untuk menjadi terapis. Untuk menggunakan jasa Li Lie, pelanggan harus merogoh kocek yang cukup dalam. Tarifnya Rp1,2 juta untuk sekali pijat berdurasi 2 jam. ‘Ongkos’ tersebut tentunya bukan hanya sekadar pijat, namun sudah termasuk biaya kencan.

Uang tersebut, belum termasuk tips untuk si terapis. Setiap pelanggan masih harus mengeluarkan uang tips sebesar Rp500 ribu kepada terapis plus-plus ini. Memang tidak murah, namun nyatanya Cungkok ini tetap menjadi primadona bagi pria ‘hidung belang’ untuk memuaskan nafsu syahwatnya.

Kehadiran cewek Uzbekistan, Tiongkok, Thailand, dan Vietnam di dunia prostitusi papan atas tak dipungkiri mampu mendongkrak omset tempat hiburan dimana mereka bekerja. Tingginya peminat pengunjung tempat hiburan yang membooking cewek impor ini mengindikasikan kondisi tersebut.

Pesanan untuk merekrut cewek impor pun otomatis tinggi. Cewek impor ini terutama Si ‘Kuda Putih’ (Uzbekistan) dan Cungkok (China) menjadi primadona dan menambah gairah tempat hiburan.

Leave a Comment