Drone, Man Toys Hobbies atau Equipment Wajib Profesional? Bagian 1

Drone, Man Toys Hobbies atau Equipment Wajib Profesional? Bagian 1 Sumber: dji.com

MATA LELAKI - Penggunaan Drone yang paling umum adalah pengambilan foto dari angle yang selama ini sulit dilakukan secara manual. Dunia fotografi sangat terbantu tentu saja. Jurnalis media modern saat ini mulai memanfaatkan secara maksimal drone untuk menghasilkan gambar-gambar yang apik dan sesuai dengan bentuk karya tulis mereka atau bahkan galeri foto seni mereka. Apa pemanfaat drone terbatas pada sisi fotografi saja? Tentu saja tidak. Pabrikan drone terus berlomba menghasilkan tipe-tipe drone yang bisa dimanfaatkan secara luas, termasuk sebagai jenis hobi terbaru yang mulai merambah kalangan eksekutif milenial.

Drone, Man Toys Hobbies atau Equiment Wajib Profesional?
Pic Source : buaya-instrument.com

 

Pengertian Drone

Kata ‘Drone’ mewakili suatu unit “unmanned aerival vehicle” atau UAV yang diterjemahkan singkat sebagai pesawat tanpa awak. Instrumen bermesin ini terbang tanpa kehadiran pilot dalam pesawat karena dikontrol melalui pengendalian jarak jauh atau dalam perkembangan terbarunya, dalam mengendalikan unit itu secara mandiri dengan penerapan Artificial Intellegent (AI) dengan mengikuti hukum aerodinamika dapat terbang dengan atau tanpa muatan. Untuk beberapa agen pengiriman internasional, di beberapa negara maju, telah memanfaatkan Drone sebagai pengirim paket mereka. Sebut saja situs online belanja terbesar USA, Amazon. Amazon melalui program Amazon Premier Air menawarkan delivery produk-produk mereka menggunakan drone ke alamat pengiriman. UPS juga berencana memanfaatkan drone untuk mengirimkan berbagai produk postal mereka.

Hal tersebut sangat dimungkinkan karena drone bisa terbang dengan arahan berupa kontrol langsung melalui remote control atau aplikasi kontrol sejenis atau juga terbang secara otomatis mengikuti program yang bisa ditanamkan dalam drone sesuai prosedur tertentu.

 

Sejarah Singkat Drone

Tahun 1916 seorang inovator asal Inggris, Archibald Low berhasil merancang dan sukses menerbangkan unit pesawat tanpa awak dengan perangkat radio kontrol. Keberhasilan ini menjadi tonggak awal revolusi pesawat tanpa awak. Sempat di implementasikan untuk aktif di Perang Dunia I, drone generasi awal ini rencananya dipergunakan untuk melancarkan serangan darat dan udara untuk menghadapi invasi Jerman. Sayangnya setelah melalui berbagai usaha, pesawat kontrol ini batal digunakan. Terbukti suara yang dihasilkan dan frekuensi radio yang menumpuk, mengganggu proses kontrol yang memanfaatkan gelombang radio sehingga seringnya drone ini gagal melaksanakan tugas.

Sopwith Aircraft Company berinovasi lebih lanjut dengan mengembangkan receiver di ekor pesawat hingga diharapkan tidak mengganggu sinyal pengontrol. Tidak mau kalah, Archie kembali melakukan presentasi di depan pejabat militer dengan drone terbarunya. Belum bernasib baik, meski unit drone berhasil terbang baik, mendadak mesin pesawat mati dan nyaris menimpa para perwira militer yang sedang menyaksikan demonstrasi tersebut.

Sejak itu, drone mengalami perubahan perkembangan dan menjadi pesawat yang diperuntukkan sebagai target latihan dalam simulasi terbang tempur pasukan angkatan udara. Dalam lanjutannya, kemampuan terbang mandiri ditambahkan sehingga drone memiliki fungsi-fungsi yang berkembang dalam militer.

Drone, Man Toys Hobbies atau Equiment Wajib Profesional? 2
Pic Source : berbagaireviews.com

 

Asal Mula kata “Drone”

Drone dalam kamus bahasa inggris sebenarnya berarti lebah jantan. Julukan ini menempel sebagai pengganti istilah pesawat tanpa awak karena dalam sejarah perkembangan drone di awal kelahirannya, pesawat UAV besutan militer Inggris tahun 1935 diberi nama DH 82B Queen Bee. Pesawat tanpa awak ini berukuran besar selayaknya pesawat ukuran normal. Setelahnya, angkatan laut Inggris Raya terus bereksperimen dengan tipe UAV berikutnya dan berukuran lebih mungil sehingga mereka menyebutnya sebagai ‘lebah jantan’ (Note: Ratu lebah dalam koloni lebah selalu dijaga dan diikuti oleh lebah-lebah jantan). Karena panggilan ini menjadi umum, akhirnya kata ‘drone’ menjadi identitas sebuah unit pesawat tanpa awak.

 

Perkembangan Teknologi Drone di Indonesia

Sejak tahun 2000 Indonesia melalui lembaga penelitan dan pengembangan sudah bergelut dengan teknologi drone. Sayangnya, perkembangan yang dihasilkan jauh dari asa. Untuk menyikapi hal itu, terbentuklah gagasan penggabungan beberapa lembaga terkait dalam wadah asosiasi penelitan. Asosiasi ini beranggotakan PT Dirgantara Indonesia (DI), Lembaga Elektronik Nasional (LEN), BPPT dan LAPAN dalam komposisi dan wewenang sesuai fungsinya masing-masing yang diatur kemudian dalam pendirian asosiasi tersebut. Hal ini diikuti dengan langkah positif dan sumbangsih penelitian dari beberapa universitas terkemuka Indonesia seperti Universitas Gajah Mada, Institut Teknologi Bandung dan ITS.

Hasil karya mereka diluncurkan oleh LAPAN diberi kode LSU (Lapan Surveillance Unmanned) dan diberi nama resmi PUNA (Pesawat Udara NirAwak) oleh BPPT. Belum siap untuk fungsi militer, drone ini difungsikan sebagai pengawas titik kebakaran hutan, pencegahan dan monitoring gunung berapi, banjir dan juga pemetaan dan pendukung lanjutan pertahanan negara Indonesia.

Menurut pengamat perkembangan Drone Indonesia, saat ini militer Indonesia memiliki 2 unit drone yang aktif difungsikan. Satu sebagai pengawas untuk menjaga perbatasan wilayah Indonesia bernama Wulung, dan satu unit lagi difungsikan sebagai pengintai dengan kode Heron. Heron memiliki teknologi yang lebih adaptif dan canggih sehingga dipercaya bisa membantu TNI dalam kegiatan militer damai negara.

Drone, Man Toys Hobbies atau Equiment Wajib Profesional? 3
Pic Source : berbagaireviews.com

 

Sementara itu LAPAN telah mengumumkan mereka dalam tahap pengembangan generasi selanjutnya dari Drone Indonesia, berkode LSA (Lapan Surveillance Aircraft) yang digambarkan mampu membawa 2 orang awak untuk pengumpulan data, verifikasi dan validasi data secara langsung. LAPAN mengumumkan kalau unit ini akan memiliki efesiensi yang tinggi sehingga bisa menggantikan banyak fungsi dari satelit.

Di sektor swasta, UGM sudah melakukan test lapangan terhadap unit drone mereka dengan model Quadcopter termasuk dalam kegiatan pengawasan pasca erupsi gunung Merapi terhadap lingkungan sekitarnya termasuk Candi Borobudur. Unit drone mereka digadangkan telah memiliki kemampuan fotogrametri yang mumpuni. Fotogrametri adalah istilah teknik untuk sistem pemetaan berdasarkan hasil dari foto udara. Meski demikian, hasil pemetaan secara fotogrametrik masih berupa ‘peta foto’ dan tidak dapat mentah-mentah dijadikan dasar atau lampiran penerbitan peta.

(berlanjut di bagian 2)

Leave a Comment